Kerja Dari Rumah, Mungkinkah?


Kerja dari rumah, mungkinkah?

ibu bekerjaPertanyaan itu terus terngiang-ngiang di benak manakala menghadapi masa-masa berat ibu bekerja di luar rumah. Memangnya berat ya bekerja itu?

Mana ada sih bekerja yang enggak berat. Lebih-lebih mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang tanpa limit dan tanpa imbalan uang. Kalau memang selalu tertanam di benak kita bahwa yang kita lakukan itu berat, ya pasti berat lah rasanya. Cuma kan ya kembali lagi kepada niatan kita untuk melakukannya.

Saya sih masih tergolong ibu yang slebor untuk urusan membereskan segala kelengkapan rumah tangga. Waktu saya lebih banyak habis di kantor, sampai rumah sudah mau pingsan *yang ini sih sengaja lebay 😀  Belum lagi serbuan anak-anak yang seakan-akan tak mau lepas dari saya barang sedetik pun. Ya untuk bantu ngerjain PR lah, minta dibuatin makanan ini dan itu (udah tau emaknya nggak bisa masak masih diminta buatin juga), belum lagi kalau harus sampai episode paling menantang : mendongeng. Dugh, bahan bakar di tubuh hampir habis nih, sungguh luar biasa daya upaya yang harus saya kerahkan untuk mengkreasi dongeng untuk anak-anak.

Lalu…lalu… mau ngeluh apa lagi Bu? 😉

Ah, saya jadi malu. Itu tadi bukan mengeluh lho… sekedar curcol kebablasan saja hehehee… Nikmat Tuhan mana yang mau saya ingkari saat saya bisa dengan mudahnya berganti-ganti pekerjaan sedangkan banyak orang yang masih belum beruntung tidak memiliki pekerjaan. Ini bukan soal beratnya beban hidup. Hanya merasakan sesuatu di lubuk hati terdalam. Rasa yang berulang timbul setiap kali badan saya ada di kantor tapi pikiran saya di rumah terus karena ada salah satu dari anak saya yang sakit.

bersama anakYa namanya anak sakit pasti bisa toh ijin di kantor? Tentunya lah. Keluarga kan memang harus diutamakan. Semua jadi bercampur aduk rasanya manakala sakitnya si anak bertepatan dengan pelaksanaan pekerjaan yang tidak bisa didelegasikan dan tidak bisa diundur waktunya. Salah satunya saya beri contoh deh, pas audit perusahaan dari instansi terkait. Audit itu kan memeriksa aneka hal pelik yang sudah bukan rahasia lagi kalau hanya satu dua orang saja yang tau. Dan apesnya nih, saya ada di posisi itu.

Bisa dipastikan dong hati saya mendua. Belum lagi kalau dari diri saya sendiri tiba-tiba muncul tuntutan yang mau tak mau bikin saya galau.

Ibu macam mana kamu itu nggak ngurusin anakmu?

Ow oooww… kalau saya sendiri sampai kepikiran seperti itu apalagi orang lain ya 😉 Atau jangan-jangan malah hanya saya sendiri yang berpikir begitu, alias saya lebih jahat kepada diri sendiri dibandingin orang lain? Entahlah.

Trus jadi kepikiran begini deh : kerja dari rumah, mungkinkah? Enak banget kayaknya ya kalau bos ngebolehin saya bawa semua kerjaan itu ke rumah. Kan asyik, bisa ngerjain gawean sembari antar jemput anak sekolah, mencoba aneka resep untuk keluarga, memanjakan diri ke spa, belanja, aaahh… masih banyak lagi deh angan-angan saya. Impian semusim yang enggak realistis sama sekali 😉  Mana ada coba karyawan pabrik yang boleh seenaknya sendiri gitu hihihii….

Lantas bagaimana coba biar saya tetap memperoleh penghasilan namun badan dan pikiran saya tidak terpecah belah, mikirin kantor vs rumah gitu?

Saya pernah baca buku karya Mb Carolina Ratri yang berjudul Sukses Membangun Toko Online. Di situ dibeberkan semua tips bagaimana memulai dan mengelola toko online. Hari gini tentunya sudah banyak orang yang memanfaatkan teknologi internet untuk segala macam keperluan. Mulai dari sekedar chit chat di sosmed hingga gugling aneka informasi yang dibutuhkan. Dunia ada di ujung jari kita lah ya, tinggal klak klik di smartphone maupun komputer / laptop, segala hal yang ingin kita cari ada di depan mata.

Saya juga jualan online sebenarnya. Aneka aksesoris rajut sudah saya gelar di lapak jualan online. Mulai dari akun facebook hingga blog. Pendapatannya lumayan juga sih walaupun tetep jauh lebih besar gaji saya di kantor heheheee… Itu sih karena saya memang masih lebih condong ke pekerjaan utama saya. Hati saya sudah pengin usaha sendiri, tapi kok kantong saya masih menarik-narik saya untuk selalu berpaling ke kantor 😉

sukses bekerja dr rumah
courtesy : stilettobook.com

Lantas saya lihat buku karya Mba Brilyantini yang diterbitkan oleh Penerbit Stiletto di atas. Saya cuma liat cover bukunya saja sih, mau beli masih ragu-ragu, beneran bisa ntar sukses bekerja di rumah?

Kerja di rumah harus bisa manajemen waktu dengan ketat. Setia pada jam kerja, bisa pegang janji kepada klien/partner. Kerja di rumah gaptek? BIG No! Cari apps, gadget/komputer/alat kerja yang mempermudah kerja. ~ sumber : Stiletto – Free talk bersama Brilyantini

Pada sesi free talk penerbit Stiletto dengan penulis buku di atas, saya coba kulik lagi seberapa besar potensi saya untuk bekerja di rumah. Dan ini adalah beberapa hal yang saya alami selama bekerja di luar rumah  :

  1. Terbiasa under pressure, bos minta A ya harus A yang dikerjakan. Bahkan bila jam kerja sudah usai dan A belum tersedia, ya harus kuat lembur.
  2. Selalu ada deadline dalam pekerjaan.
  3. Sering menghadapi resiko administratif dan peraturan pemerintah.
  4. Harus siap berkonfrontasi maupun berkoordinasi dengan berbagai pihak agar pekerjaan berjalan mulus.
  5. Bersahabat penuh dengan piranti elektronik macam komputer, scanner, printer plus internet sebagai sarana komunikasi utama dalam pekerjaan.

Kayaknya apa yang saya alami ini mirip dengan yang diutarakan Mba Brilyantini deh :

Di kantor kita belajar manajemen, hubungan interpersonal, negosiasi, disiplin, networking, kerja tim, administrasi dll. Mau langsung kerja di rumah? Bisa aja, tapi usahanya harus ekstra. Saingan di luar sana banyak banget.~ sumber : Free talk bersama Brilyantini

Jadi, apakah bekal saya selama bertahun-tahun ‘mengarungi marabahaya’ ini bisa saya terapkan di rumah?

Jujur saja saya masih belum yakin. Apalagi memang saya belum membaca semua isi dari buku ini. Walaupun pada sesi free talk itu penulis memaparkan ada seorang narasumber bernama Astri Nugraha, ibu 4 orang anak, tanpa ART dan menjalankan bisnis katering. Wogh, saya nggak habis pikir, bagaimana bisa ya Mba Astri menjalani hidupnya seperti itu.

Berat banget sepertinya. Tapi apakah saya akan seumur hidup bekerja di kantor? Manalah perusahaan kuat menghadapi karyawati tua yang mulai lemah fisiknya dan bawelnya ampun-ampunan melebihi bosnya nantinya? 😉  Apa nggak lebih baik kebawelan saya ini saya salurkan menjadi energi positif dengan menciptakan usaha di rumah? Bonusnya kan banyaaakkk… Bisa fleksibel jam kerjanya (walaupun tetap harus disiplin), bisa memantau anak-anak dengan lebih detail, lebih banyak waktu untuk keluarga, dan yang jelas melatih saya untuk lebih bertanggung jawab soal beberes rumah 😉

Bagaimana teman-teman, kira-kira lebih baik begitu kah?

Bagaimana ayah dan anak-anak, apakah kalian siap berjibaku bersama ibu bawel ini setiap saat? 😉

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis “Asyiknya Bekerja dari Rumah

Advertisements

Published by

Uniek Kaswarganti

I'm a proud mom of two lovely kids, who prefer to read and write in my spare time. I like to write everything in my daily activities, give simple comments on products I wore, make reviews of books, films, and some more things interest me. It's open for everybody to contact me for any kind of job review or getting a testimoni of their products, do not hesitate ;)

8 thoughts on “Kerja Dari Rumah, Mungkinkah?”

  1. Astri Nugraha yg blogger itu ya ? Suka ngintipin blognya sejak tahun 2003. Keren emang kalau baca2 blognya, ngerjain apa2 sendiri.

    Mbak Uniek kayaknya bisa deh seperti itu juga 😉

    Sukses ngontesnya, Mbak.

    Like

Monggo, ditunggu komennya yaaa...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s