Little Miracle


Little Miracle. Hanya itu yang bisa kuucap untuk putri pertamaku. Sejak kelahirannya di tahun 2004, 10 bulan setelah pernikahanku, tak lepas-lepas kupanjatkan puji syukur untuk kehadirannya. Meski saat itu masih suka bergaya ABG pacaran dengan suami, namun putri kecilku itu merupakan ‘keajaiban’ yang sangat kusyukuri di tengah deraan psikis yang sedang ‘kunikmati’ (kisahnya ada di sini).

Savitri Nurudzaati Al-Kautsari, nama yang sangat indah dan penuh makna, nama yang kehadirannya perlu konsultasi dengan ahli bahasa 😉  Di sini aku tak bermaksud mengurai arti nama itu, hanya ingin menyebut nama asli putriku Vivi ini, agar bisa dideteksi bahwa ‘nur‘ yang dibawanya tak lepas dari doa yang dipanjatkan orang tuanya dalam bentuk sebaris nama. Juga ‘kautsar’ yang tak pernah putus dinikmati orang tuanya sejak kehadirannya.

Keajaiban cinta yang ada pada Vivi tak hanya terletak pada kehadirannya di dunia. Segala polah tingkah lakunya yang saling bertolak belakang sering membuat emaknya geleng-geleng kepala. Kadang bikin geli, jengkel, atau bahkan terharu. Salah satu contoh yang bikin garuk-garuk kepala adalah saat akan menghadapi test sekolah.

Lebih banyak alasan yang disampaikannya untuk menolak belajar ataupun mempersingkat waktu pelajaran. Yang sudah hafal lah, pelajarannya gampang lah, sampai alasan yang kadang bikin orang tuanya ternganga. Begini nih : “Kasihan ibu ah, cuciannya banyak, Vivi bantuin dulu yaa…” Dan mencucilah ia dengan suka ria berpuluh-puluh menit kemudian. Iya sih mencuci, gosok piring sana sini, tapi sepertinya lebih banyak main sabunnya *emaknya histeris liat sabun cuci piring tinggal sedikit 😦

Tak cuma mencuci piring, kadang-kadang secara ajaib Vivi juga menyapu dan mengepel. Tampak seperti seorang ibu yang sadis memperlakukan anaknya, padahal dia mengepel untuk menghindari acara belajar dan menata buku untuk persiapan sekolah esok hari. Keren ya anakku? 😉

vivi masak bakso
salah satu eksyen manis : bikin semur bakso (pengaruh iklan kecap)

Tanpa bermaksud memuji setinggi langit, di balik kecerdasan kata-katanya itu, sulungku itu juga cerdas secara emosional. Bukan… bukannya dia tak pernah menjerit-jerit manakala keinginannya tak dipenuhi. Namun dia tau bagaimana menyenangkan ibunya, terutama saat ibunya sedang capek sepulang dari kantor ataupun kala ibunya sedang sakit. Pernah beberapa kali dia menulis sesuatu dan meletakkannya di meja rias ibu. Seperti ini nih :

Terbacakah tulisan itu? Begini bunyinya : Dari Vivi, untuk ibuku yang tersayang. Selamat datang bu, nanti takbikinkan teh ya bu. Love, Vivi.  Aaawww… gimana enggak bikin meleleh, putriku yang ‘cadas’ alias suka teriak balik ke ibunya ini ternyata berhati supeeeerrr…  Oya, Vivi itu memang fotokopiku yang sempurna, mulai dari gaya bicara, tertawa hingga galaknya. Kayaknya berlipat ganda deh galaknya hihihiii… *eh, Vivi baca tulisan ibu ya? tapi ini kan kenyataan nak, jangan marah ya 😉

Meski sekarang sudah terkena virus blogging dari ibunya, pertama kali Vivi menulis ya di diary sederhana. Buku polos yang ditempeli foto-foto kesukaannya. Tulisannya yang bikin ibunya terharu biru ya ini :

IBU

Betapa besar jasamu padaku
kau timang aku saat bayi
kaurawat dan kaujaga saat aku sakit
tak kenal lelah engkau membimbing diriku
kasih dan sayang kauberikan untukku
engkau mendoakan aku selalu
aku akan membalas jasamu Ibu

Coba, gimana enggak terharu baca yang begitu. Meski aku bukan kategori perempuan melankolis, tapi ya terlalu kalau membaca coretan bocah 6 tahun seperti itu tanpa ada haru terbersit. Bisa saja sih dia nyontek buku, tapi aku tak mau tau. Mau nyontek ataupun tidak, putriku sungguh luar biasa. Di balik perlawanannya terhadap segala perintahku di rumah, aku selalu yakin bahwa si cantik itu tentunya amat mencintai ibunya *tissue mana tissuuueee

Tak hanya bersifat simbolik seperti tulisan saja, Vivi juga pernah membuatkan seperangkat gelang dan cincin dari mote-mote. Waktu itu dia sedang gemar-gemarnya berlatih merangkai mote. Putriku itu bilang kalau ibunya tuh kasihan, tak punya perhiasan satu pun, baik anting, gelang maupun cincin. Maka dibuatkanlah surprise untuk ibu seperti ini :

Wah, senang sekali hatiku, mak ceeessss rasanya mendapat kejutan sepulang dari kantor. Rasa penat serasa langsung hilang saat hadiah manis dari putriku yang cantik ini ditunjukkannya padaku. Langsung dipakailah hadiah itu, meskipun hanya bertahan beberapa hari. Bukannya tak menghargai, salah satu alasan tak pernah pakai perhiasan ya karena risih saja, ada yg menghalang-halangi kulit gitu 😉

Masih banyak lagi contoh-contoh ‘keajaiban’ yang ditunjukkan Vivi, putri sulungku yang manis-manja-galak itu. Dia pernah menyisihkan uang sakunya hanya untuk membeli mawar plastik berwarna pink, yang tiba-tiba disodorkan sepulangku dari kantor. I love you, Ibu… itu katanya. Ah manis sekali kau, Nduk Cah Ayu, selalu mampu mengombang-ambingkan perasaan ibu. Bisa marah saat kau sedang ngeyel, tapi bisa juga terharu saat mendapat kejutan-kejutan seperti itu.

Yang paling ‘ajaib’ yang pernah kurasakan adalah saat sakit. Yah, sekedar meriang sih gara-gara mau flu. Nah, Vivi yang super duper keren ini rela mengajak adiknya untuk ‘cuci’. Cuci merupakan aktivitas rutin kedua buah hatiku di malam hari sebelum tidur. Gosok gigi, cuci muka dan mengganti baju dengan yang bersih. Coba saja kita bayangkan, anak kecil umur delapan tahun ‘ngemong’ adiknya untuk melakukan semua aktivitas di atas. Padahal adiknya yang umur empat tahun itu terbilang ‘super lincah’, namun Vivi tidak mengeluh dan menunjukkan dengan bangga kepada ibunya yang sedang terkapar bahwa tugasnya sudah ‘purna’. Adiknya telah berganti piyama bersih dan badannya wangiiiii sekali beraroma minyak telon. “Adik udah kucuci Bu, ibu istirahat aja ya biar cepet sembuh.” Peluk peluk Kak Vivi deh maunya kalau begitu.

Jadi, tidak salah kan bila putriku menjadi little miracle of my life? Semua yang sanggup dia lakukan merupakan bukti keajaiban cinta seorang anak pada ibunya. Terlepas dari kesehariannya yang sering bawel, suka beralasan saat diminta belajar ataupun sholat, susah bangun pagi, tak mau berhenti saat ‘jam online’nya sudah berakhir, namun akhirnya kusadari bahwa Vivi is one of a kind, a girl beyond her mom’s expectation. Anak kecil yang sering tiba-tiba berubah dewasa saat menunjukkan cintanya kepada ibunya.

Bagiku, keajaiban cinta itu tak perlu muluk-muluk. Little miracle-ku sudah cukup. Itulah kenapa aku sangat menginginkan untuk mendapatkan novel A Miracle of Touch karya mba Riawani Elyta. Penasaran sekali saat membaca sinopsisnya tentang Ravey dan Talitha, yang menikah bukan karena cinta. Masak iya sih menikah bukan karena cinta, lalu untuk apa coba mereka menikah? Lah, hidupku selama ini datar-datar saja, punya suami juga karena kami berdua saling mencinta. Heran sekali deh baca sinopsis ini. Pengin tau ending apa yang akan disajikan mba Riawani Elyta kepada pembacanya. Apakah semisterius prolog di Gleneagles Hospital itu, dimana seorang perempuan ber’bindi’ baru saja diselamatkan dari usaha bunuh dirinya? Sepertinya berlebihan ya, bisa gitu ada orang yang mencoba bunuh diri gara-gara gampang depresi?

Mba Riawani Elyta, mau banget donk dapet A Miracle of Touch, agar segala pertanyaan yang berkecamuk di kepala ini bisa tertuntaskan. Terima kasih yaaa….

Advertisements

Published by

Uniek Kaswarganti

I'm a proud mom of two lovely kids, who prefer to read and write in my spare time. I like to write everything in my daily activities, give simple comments on products I wore, make reviews of books, films, and some more things interest me. It's open for everybody to contact me for any kind of job review or getting a testimoni of their products, do not hesitate ;)

17 thoughts on “Little Miracle”

  1. Berkunjung ke tulisan pemenang^^
    Selamat ya, tulisan ini bagus, Pantas banget jadi pemenang GA dan dapet novelnya.
    Sebagai ibu, saya juga sering merasakan bagaimana anak-anak punya cara mereka sendiri untuk membuat kita bahagia :’)

    Saya tunggu kunjungan baliknya ke http://juwitazahar.blogspot.com ya.
    Salam kenal 🙂

    Like

  2. Berkunjung ke tulisan para pemenang^^
    Selamat ya mbak, tulisan ini pantes banget jadi pemenang 🙂
    Sebagai ibu, saya juga merasakan bagaimana anak-anak punya cara mereka sendiri untuk membuat kita merasa bahagia meski dengan hal-hal sederhana yamg mereka lakukan 🙂

    Ditunggu kunjungan baliknya ke http://juwitazahar.blogspot.com ya^^
    Salam kenal.

    Like

Monggo, ditunggu komennya yaaa...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s